review jurnal 3

REVIEW JURNAL ILMIAH ( KEKELUARGAAN )

Data jurnal ilmiah yang berjudul “Psychosocial predictors of sexual initiation and high-risk sexual behaviors in early adolescence” diambil melalui self-report survey yang dilakukan pada tahun 2001 dan 2003 dengan objeknya yaitu kelompok kelas enam sekolah dasar (149 kelas dari 17 smp dan sma, populasi keseluruhan berjumlah 1175) di sebuah kota kecil yang terletak di bagian northeast, US.

Hal yang pertama diuji adalah faktor apa saja yang menjadi masalah internal dan eksternal pada anak kelas enam sekolah dasar, rasio perubahan pada faktor-faktor ini selama menjalani sekolah dasar/sekolah menengah pertama, dan perkiraan perilaku seksual usia dini dalam dua tahun kemudian; saat sebagian besar anak-anak tersebut berada di kelas delapan atau setara dengan kelas tiga sekolah menengah pertama di indonesia.

Peneliti kemudian menilai tiga hal tersebut (faktor-faktor  masalah internal atau masalah eksternal di kelas enam sekolah dasar, dan rasio perubahan selama mereka masih di sekolah dasar, diperkirakan terikat dengan perilaku seksual yang berisiko tinggi selama dua tahun kemudian) agar dapat menganalisis hasil akhirnya.

Hasil dari penelitian ini adalah murid-murid tersebut terbagi menjadi dua kategori: mereka yang sudah aktif secara seksual di tahun ketiga (n=235 (235%)) dan mereka yang tidak aktif secara seksual di tahun ketiga (n=692 (74,6%)).

Kemunduran hirarki yang logistik dengan penyebab utamanya yaitu perilaku seks pada usia dini (murid-murid yang tidak aktif secara seksual saat kelas enam sekolah dasar, tetapi dilaporkan menjadi aktif secara seksual di tahun ketiga saat sekolah, 1/0) sebagai variabel dependent. Jenis kelamin (laki-laki (1)/perempuan (0), ras (dengan variabel yang dibuat untuk afrika-amerika (1/0) dan hispanik (1/0)), SES yang rendah dan sensasi yang dicari (sensation seeking) termasuk sebagai kontrol.

Penelitian ini menilai efek yang tidak biasa dari beberapa bentuk tentang faktor internal dan eksternal psikopatologi dalam aktivitas seksual dan seks bebas di usia sekolah menengah pertama. Dengan menggunakan tiga tahun desain longitudinal yang memakai tiga macam pengukuran, peneliti memasukkan psikopatologi dari anak-anak kelas enam sekolah dasar sebagai prediktor di perilaku seks usia dini dan perilaku seks yang beresiko tinggi.

Dalam penelitian ini, laki-laki dua kali lebih banyak daripada perempuan dalam mencoba intercourse dan tiga kali lebih banyak beresiko melakukan perilaku seksual daripada perempuan dengan perbandingan umur yang sama. Hasil ini diperkirakan karena laki-laki lebih sering membicarakan perilaku tersebut dibandingkan perempuan.

Peneliti juga menemukan koresponden dengan status ekonomi-sosial yang rendah (termasuk di dalamnya struktur keluarga, pendidikan dari orang tua, dan perwakilan ukuran untuk status ekonomi) mempunyai risiko meningkatnya melakukan intercourse lebih awal dibandingkan teman bermainnnya. Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang memperlihatkan bahwa pemuda yang orang tuanya adalah single parents, pendapatan rendah atau pengasuhan yang kurang bagus melakukan seks lebih dulu dibandingkan teman bermainnya. Beberapa telah dihipotesiskan bahwa kemiskinan (dengan single parents dan kurangnya pengetahuan tentang pengasuhan) meningkatkan risiko berperilaku seks (karena terbatasnya dan kurangnya kualitas dalam bersosialisasi dan tenaga pengajar di lingkungan rumah dan masalah ekonomi yang menyebabkan kurangnya pengawasan dari orang tua). Walaupun status sosial-ekonomi dihubungkan dengan meningkatnya resiko perilaku seks usia dini, keterkaitan ini menurun secara signifikan saat psikopatologi megubah variabel sepanjang masa yang dimasukkan ke dalam analisis, ini semua cenderung karena status sosial-ekonomi juga diasosiasikan dengan peningkatan yang luar biasa di faktor eksternal dan sedikit penurunan di masalah internal.

Penelitian baru-baru ini terkait dengan remaja Amerika menemukan bahwa remaja yang melakukan seks di usia dini terkorelasi dengan perilaku seksual yang lebih berisiko seperti misalnya, meningkatnya partner seks dan menurunnya penggunaan kontrasepsi yang mengakibatkan meningkatnya resiko kehamilan tak terencana dan menyebarnya penyakit seks menular. lebih lanjut, dengan menyediakan petunjuk dan perhatian untuk mereka yang aktif di usia muda bisa menurunkan efek negatif dari perilaku seksual usia dini.

Dari faktor psikososial yang telah diteliti, peneliti menemukan bahwa faktor eksternal lebih dapat diperkirakan untuk risiko seksual di usia dini dibandingkan dengan faktor internal. hasil ini mendukung penemuan yang sama di beberapa dokumen literatur antara penyimpangan eksternal di masa kecil dengan  masalah perilaku yang menunjukkan psikopatologi eksternal di masa kecil lebih berpengaruh terhadap perilaku seksual daripada psikopatologi perilaku yang menganiaya.

Kesimpulan dari artikel ilmiah ini adalah orang tua sebagi pendidik utama dalam keluarga seharusnya bisa menentukan pola pengasuhan yang tepat dalam menyikapi usia rentan anak-anaknya (yaitu saat usia anak-anak 11 tahun sampai remaja) sehingga sang anak dapat menentukan cara bersikap dalam menghadapi suatu kondisi sosial di masyarakat dan dapat menganalisis pergaulan mana yang baik dan buruk untuk kehidupan remaja mereka. Tidak hanya berperan sebagai pendidik tetapi juga bisa menempatkan posisi sebagai teman saat anak-anaknya membutuhkan teman bercerita sehingga sang anak tidak canggung dalam bersikap di depan orang tua mereka dan merasa nyaman juga terbuka. Dengan ini orang tua dapat mengawasi perilaku anak tanpa harus selalu mengikuti mereka kemanapun. Rasa kepercayaan orang tua terhadap anak-anak mereka diperlukan pada tahapan ini.

Untuk kasus anak-anak yang berasal dari keluarga miskin (status sosial-ekonomi yang rendah) seharusnya ada bantuan yang konkret dari masyarakat seperti tetangga atau sekolah atau bahkan pemerintah dalam bentuk memberikan pengetahuan kepada kepala keluarga tersebut tentang pentingnya pendidikan seks di usia dini dan cara-cara penyampaian ke anak-anak mereka kemudian juga pengetahuan tentang betapa pentingnya pengawasan orang tua terhadap pergaulan anak-anak mereka, lalu pentingnya suatu pendidikan formal untuk perkembangan anak (tentu saja dengan bantuan pendidikan gratis bila keluarga tersebut disinyalir tidak mempunyai biaya untuk menyekolahkan  anak mereka), adanya bimbingan untuk anak-anak yang kurang mampu ini sehingga mereka tidak masuk dalam pergaulan bebas dan tidak melakukan perilaku seksual di usia dini.

Penilitian

Penelitian menunjukkan bahwa berterima kasih bagus untuk diri kita. Hal ini dibuktikan dengan orang-orang yang melakukan hal tersebut lebih sehat dibandingkan orang-orang kebanyakan dan lebih sukses dalam meraih impian-impian mereka. Robert Emmons, Ph.D., seorang profesor di University of California, Davis, and pengarang buku “Thanks! How Practicing Gratitude Can Make You Happier.” mengungkapkan bahwa tidak ada yang salah dengan berpura-pura bersyukur atau berterima kasih karena cepat atau lambat kita akan menjadi tulus dalam melakukannya. Barry Schwartz seorang profesor di bidang psikologi di universitas Swarthmore, Pennsylvania berkata bahwa ia tidak pernah menemui orang tua yang menginginkan hal yang cukup untuk anak mereka. Orang tua selalu menginginkan hal yang terbaik bagi anak mereka. Tetapi bila kebahagiaan adalah tujuan kita maka itulah yang akan kita dapatkan.

Menurut fakta, otak manusia harus bertindak dan merasakan hal yang sama. Contohnya saja anak kecil susah tersenyum saat berkata sesuatu yang jahat. Ekspresi mereka akan mengikuti apa yang diucapkan oleh mulut mereka. Karena itu orang-orang dianjurkan untuk berdoa karena di dalam isi suatu doa tidak ada yang jelek. Sering-seringlah kita mengucapkan hal-hal yang baik karena dengan otomatis seluruh tubuh kita atau perilaku kita akan melakukan dan menghasilkan sesuatu yang baik pula.

Tetapi dalam keseharian kita selalu saja menemukan orang-orang yang tidak pernah puas terhadap apa yang telah mereka miliki. Schwartz menyebut orang-orang ini sebagai “maximizers”. Ada juga tipe orang yang disebut dengan beliau sebagai “satisficer”, orang-orang yang santai dan menikmati apapun itu yang mereka miliki tanpa peduli dengan apa yang dimiliki oleh orang lain.

Schwartz menyarankan untuk menjadi “satisficer” dan ajarkan anak untuk melakukan hal yang sama. Anak kecil melihat orang tua sebagai role model mereka. Hal ini juga dijelaskan di mata kuliah psikologi anak yang memaparkan bahwa salah satu tahapan anak dalam perkembangan mereka adalah imitating atau meniru. Dengan bersikap dan berkata yang baik maupun sopan, anak dengan sendirinya akan meniru perilaku orang tua tersebut karena anak belajar dari lingkungan (teori ini disebut dengan enviromentalism). Dan lingkungan yang essensial bagi seorang anak adalah keluarga dengan orang tua sebagai pendidik dan pengawas utama tumbuh kembang anak.

Bila terkadang kita tidak berhasil dalam berperilaku sebagai seorang “satisficer” karena itu bukanlah sifat kita yang asli maka coba untuk meyakinkan pada diri sendiri bahwa kita sudah melakukan setengah perjalanan dengan mencoba menjadi seorang “satisficer”. Jika kita menemukan hambatan, cobalah untuk bersantai sejenak lalu mambaca buku dan kemudian fokuskan kembali pikiranmu.

Penelitian membuktikan bahwa orang-orang yang bahagia adalah orang-orang yang berfokus pada kebahagiaan dan hal-hal yang menyenangkan: baik itu hal-hal di masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Seperti yang dijelaskan pada buku The secret, sebuah buku motivasi terkenal di dunia, pikiran kita adalah antena terhebat di dunia. Dia mengirimkan sinyal-sinyal ke jagat raya dan menarik sinyal-sinyal lain yang serupa ke diri kita. Analogi pikiran dan antena ini menjelaskan bahwa apa yang kita pikirkan atau apa yang kita fokuskan adalah apa yang akan kita dapatkan, baik itu cepat maupun lambat akan datang pada diri kita suatu saat nanti, dan itu bersifat pasti. Kekuatan pikiran adalah kekuatan yang menakjubkan tanpa kita sadari sebeumnya.

Menurut Loyola, seorang profesor di bidang psikologi universitas Chicago, memikirkan hal yang bahagia merupakan suatu tantangan yang berat bagi orang dewasa karena mereka cenderung memikirkan hal-hal yang negatif. Tapi sangat mungkin untuk mengajarkan pemikiran bahagia kepada anak-anak walaupun mereka sedang menghadapi suatu masalah, hal ini disebut mengambil hikmah sari suatu peristiwa dengan cara yang menyenangkan.

Cara mengajarkan hal tersebut adalah dengan memfokuskan segala sesuatu di point-point yang bagus saja. Seperti misalnya saat orang tua menceritakan apa yang mereka alami di hari itu, coba untuk menekankan di bagian saat mereka berusaha untuk menghadapi suatu masalah. Dengan begitu maka sang anak akan belajar bagaimana bersikap saat anak menghadapi suatu permasalahan di lingkungan sosialnya.

Anak kecil mungkin saja selalu mengganggu dengan meminta apa yang mereka mau. tapi penelitian selalu menemukan bahwa keinginan untuk memiliki segalanya bukanlah suatu jalan menuju kebahagiaan. Nyatanya, peneliti menemukan bahwa orang-orang akan memberikan imbalan daripada menerima mereka sekaligus. Kita harus berada pada situasi di luar dari zona nyaman kita dan dengan begitu kita akan lebih menghargai apa yang telah kita dapat. Misalnya saja, kita selalu menginginkan rumah yang lebih bagus dari rumah yang kita tempati saat ini. Untuk menghargai dan mensyukuri apa yang kita dapat maka kita harus tinggal atau setidaknya pergi ke tempat yang lebih kumuh. Dengan begitu, kita akan menyadari apa yang kita miliki dan akan lebih banyak bersyukur ke depannya. Teori ini dapat dipraktekkan terhadap anak-anak agar mereka lebih menghargai apa yang mereka miliki dari usia dini.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

review jurnal 2

REVIEW JURNAL KEDOKTERAN

HEAT STROKE

Heat stroke is a life-threatening medical emergency resulting from failure of the thermoregulatory mechanism. Heat stroke is imminent when the core (rectal) temperature approaches 41 °C. It presents in one of two forms: Classic heat stroke occurs in patients with compromised homeostatic mechanisms; exertional heat stroke occurs in healthy persons undergoing strenuous exertion in a thermally stressful environment. Morbidity or even death can result from cerebral, cardiovascular, hepatic, or renal damage.

The hallmarks of heat stroke are cerebral dysfunction with impaired consciousness, high fever, and absence of sweating. Persons at greatest risk are the very young, the elderly (age > 65 years), chronically infirm, and patients receiving medications (eg, anticholinergics, antihistamines, phenothiazines) that interfere with heat-dissipating mechanisms.

Exertional heat stroke and exertion-related disorders such as rhabdomyolysis are appearing more frequently as complications of participation by unconditioned amateurs in strenuous athletic activities, such as marathon and triathlon competition, or during heat waves.

Heat stroke is still associated with high mortality. In a study of heat stroke patients, in-hospital mortality was 62.6%. Risk factors were identifiable within the first 24 hours of admission. A high Simplified Acute Physiology Score II, high body temperature, prolonged prothrombin time, use of vasoactive drugs within the first day in the intensive care unit (ICU), and an ICU without air conditioning all were associated with increased mortality.

Symptoms and Signs

Heat stroke may present with dizziness, weakness, emotional lability, nausea and vomiting, diarrhea, confusion, delirium, blurred vision, convulsions, collapse, and unconsciousness. The skin is hot and initially covered with perspiration; later it dries. The pulse is strong initially. Tachycardia and hyperventilation (with subsequent respiratory alkalosis) occur. Blood pressure may be slightly elevated at first, but hypotension develops later. The core temperature is usually over 40 °C. Exertional heat stroke may present with sudden collapse and loss of consciousness followed by irrational behavior. Anhidrosis may not be present. Twenty-five percent of heat stroke victims have prodromal symptoms for minutes to hours that may include dizziness, weakness, nausea, confusion, disorientation, drowsiness, and irrational behavior. Multiorgan dysfunction or injury is a common and serious complication.

Laboratory Findings

Laboratory evaluation may reveal dehydration; leukocytosis; elevated BUN; hyperuricemia; hemoconcentration; acid-base abnormalities (eg, lactic acidosis, respiratory alkalosis); and decreased serum potassium, sodium, calcium, and phosphorus. Urine is concentrated, with elevated protein, tubular casts, and myoglobinuria. Thrombocytopenia, fibrinolysis, and disseminated intravascular coagulopathy (DIC) may occur; coagulopathy is likely. Rhabdomyolysis and myocardial, hepatic, or renal damage may be identified by elevated serum creatine kinase and aminotransferase levels and BUN and by the presence of anuria proteinuria, and hematuria. ECG findings may include ST–T changes consistent with myocardial ischemia. PCO2 may be less than 20 mm Hg.

Treatment

Treatment is aimed at reducing the core temperature rapidly (within 1 hour) while supporting organ system function. Immersion in an ice-water bath (1–5 °C) is the most effective cooling method but may not be practical due to its physical requirements and patient access limitations. Evaporative cooling is a rapid and effective alternative and is easily performed in most emergency settings. The patient’s clothing should be removed and the entire body sprayed with water (20 °C) while ambient or slightly warmed (45 °C) air is passed across the patient’s body with large fans or other means at high velocity (100 ft/min). The patient should be in the lateral recumbent position or supported in a hands-and-knees position to expose as much skin surface as possible to the air. Also effective are use of cold wet sheets accompanied by fanning, immersion in chilled water, and localized ice or ice slush application. Skin massage is recommended to prevent cutaneous vasoconstriction. Intravascular heat exchange catheter systems as well as hemodialysis using cold dialysate (30–35 °C) have been successful in reducing core temperature. Other cooling alternatives include hand and forearm immersion in cold water, ice packs (groin, axillas, neck), and iced gastric lavage, although these are much less effective than evaporative cooling.

Treatment should be continued until the rectal temperature drops to 39 °C. The temperature remains stable in most cases, but it should continue to be monitored for 24 hours. Antipyretics (aspirin, acetaminophen) have no effect on environmentally induced hyperthermia and are contraindicated.

Hypovolemic and cardiogenic shock must be carefully distinguished, since either or both may occur. Central venous or pulmonary artery wedge pressure should be monitored. Five percent dextrose in half-normal or normal saline should be administered for fluid replacement.

The patient should also be observed for renal failure due to rhabdomyolysis, hypokalemia, cardiac arrhythmias, DIC, and hepatic failure. Creatine phosphokinase (CPK) >1000 units/L, metabolic acidosis, and elevated liver enzymes are predictive of multiorgan dysfunction, the usual cause of heat stroke–related death. Multiorgan dysfunction and inflammation may continue after temperature is normalized. Hypokalemia frequently accompanies heat stroke but may not appear until rehydration. Maintenance of extracellular hydration and electrolyte balance should reduce the risk of renal failure due to rhabdomyolysis. Fluid administration to ensure a high urinary output (> 50 mL/h), mannitol administration (0.25 mg/kg), and alkalinizing the urine (intravenous bicarbonate administration, 250 mL of 4%) are recommended. Fluid output should be monitored through the use of an indwelling urinary catheter.

Because sensitivity to high environmental temperature may persist for prolonged periods following an episode of heat stroke, immediate reexposure should be avoided.

Glazer JL. Management of heatstroke and heat exhaustion. Am Fam Physician. 2005 Jun 1;71(11):2133–40. [PMID: 15952443]

Misset B et al. Mortality of patients with heatstroke admitted to intensive care units during the 2003 heat wave in France: a national multiple-center risk-factor study. Crit Care Med. 2006 Apr;34(4):1087–92. [PMID: 16484920]

Seto CK et al. Environmental illness in athletes. Clin Sports Med. 2005 Jul;24(3):695–718, x. [PMID: 16004926]

Smith JE. Cooling methods used in the treatment of exertional heat illness. Br J Sports Med. 2005 Aug;39(8):503–7. [PMID: 16046331]

Sucholeiki R. Heatstroke. Semin Neurol. 2005 Sep;25(3):307–14. [PMID: 16170743]

Originally posted 2009-04-14 12:01:30

Posted in Uncategorized | Leave a comment

review jurnal 1

review jurnal manajemen

Metode Penelitian Bisnis

Knowledge-related Skills and Effective Career Management

Latar Belakang Masalah

Para peneliti menemukan bahwa gaya kerja kuno terhadap manajemen karier, mobilitas vertikal dan stabilitas layak telah berlalu (Allred et al., 1996; Arthur dan Rousseau, 1996). Mereka menguraikan suatu lingkungan pekerjaan baru di mana setiap individu bertanggung jawab untuk mengatur karier mereka sendiri, mobilitas menjadi lateral dan penuh dengan ketidakpastian. Kebutuhan untuk meninjau kembali kondisi karir lingkungan pekerjaan yang baru ini menjadi suatu hal yang penting ( e.g. Herriot dan Pemberton, 1996). Seiring dengan berjalannya waktu, terdapat serangkaian penulisan yang muncul membangkitkan konseptualisasi yang baik untuk menguji manajemen karir ( e.g. Arthur dan Rousseau, 1996; Bird, 1994; Greenhaus dan Callanan, 1994; Hall dan Mirvis, 1996).

Hall (1996) menulis suatu paradigma karier baru dan mendukung individu menjadi self-reliant, memiliki sense of belonging atas karier mereka dan menyadari adanya konsep karier baru, yaitu protean career. Protean career ini memerlukan penguasaan dan pemanfaatan dari serangkaian skills, yang membantu perkembangan kemampuan beradaptasi dan perubahan identitas individu di berbagai lingkungan. Perubahan individual dan kemampuan adaptasi menjadi penting karena protean career tidak dikendalikan oleh organisasi, melainkan oleh individu, dan akan tercipta kembali dari waktu ke waktu ketika seseorang dan lingkungan berubah” ( Hall, 1996, p. 8). Manajemen yang efektif terhadap karier yang baru mengharuskan penguasaan serangkaian skills yang telah diidentifikasikan oleh beberapa pengarang.

Hall (1996) befokus pada ” metaskills”. Ini meliputi kemampuan beradaptasi, toleransi terhadap ketidakpastian dan ambiguitas, self-awareness, dan perubahan identitas (Hall, 1986). ( Et Allred al., 1996) mengidentifikasi kemampuan self-management dan fleksibilitas.

Penelitian ini menunjukkan perubahan terbaru di dalam iklim pengembangan karier di AS di mana individu mempunyai tanggung jawab terakhir untuk mengelola karier mereka sendiri.

Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

Apakah dalam penelitian ini terdapat hubungan antara aspek ” metaskills” dan manajemen karir yang efektif ?

Tujuan Penelitian

  • Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara aspek ” metaskills” dan manajemen karir yang efektif.
  • Tujuan penelitian ini adalah untuk menambahkan riset empiris kepada dasar konseptual yang ada.
  • Penelitian ini memberikan kontribusi yang dibutuhkan bagi penelitian lain dengan menguji bagaimana hubungan dan pengaruh transmisi kemampuan individual dalam dunia akademis terhadap manajemen karir yang efektif.

Literatur Review dan Pengembangan Hipotesis

Career Management

Career Management didefinisikan sebagai proses dinamis dimana individu mengumpulkan informasi mengenai hal yang mereka sukai, tidak disukai, kekuatan, kelemahan, dan dunia kerja; mengembangkan tujuan karir yang realistis; mengembangkan dan mengimplementasikan strategi untuk mencapai tujuan tersebut; dan menghasilkan feedback untuk mempromosikan pengambilan keputusan mengenai karir mereka (Greenhaus dan Callanan, 1994). Studi ini berfokus pada empat indikator keefektifan career management yang diadopsi dari Greenhaus dan Callanan (1994), yaitu personal learning, goal setting, career strategies, dan career decision making.

  • Personal Learning

Personal learning merupakan pembelajaran mengenai diri sendiri, siapa sebenarnya diri kita, serta mengenai sikap dan identitas personal (Hall, 1996). Personal learning memungkinkan individu memahami dirinya, nilai yang mereka miliki, dan bagaimana mereka melakukan fungsinya di dalam organisasi.

  • Goal Setting

Goal setting sering dihubungkan dengan meningkatkan kinerja melalui peningkatan usaha, arahan, perhatian dan mempromosikan formulasi strategi (Locke et al., 1981). Penetapan career goal dapat memberikan gambaran yang jelas kepada karyawan mengenai potensi masa depan mereka dan mengarahkan langkah mereka ke arah pemuasan kebutuhan yang penting (Greenhaus et al., 1995). Telah diasumsikan bahwa career goal setting adalah bermanfaat, mungkin juga penting, bagi karyawan dan organisasi (Boulmetis, 1997).

  • Career Strategies

Career strategies meliputi sekumpulan aktivitas yang membantu perkembangan implementasi rencana karir. Contohnya beberapa aktivitas seperti menciptakan kesempatan karir, meningkatkan keterlibatan dalam pekerjaan, mempresentasikan diri secara positif, mencari petunjuk karir, mentoring, networking, mengadaptasi opini pihak lain, dan perbaikan lainnya (Gould dan Penley, 1984).

  • Career Decision Making

Career decision making meliputi pilihan karir yang harus dibuat individu “di dalam ruang kehidupan yang kompleks yang dipengaruhi oleh karakteristik individual, keadaan organisasi, dan kondisi di luar organisasi” (Hicks dan London, p.121).

Metaskills”

Hall (1996, p.11) mendefinisikan “metaskills” sebagai sekumpulan keterampilan yang disyaratkan untuk mempersiapkan individu untuk “belajar bagaimana belajar”. Keterampilan ini meliputi self-knowledge dan kemampuan adaptasi yang mempertinggi kemampuan individu untuk mengasumsikan identitas yang sesuai dengan berbagai lingkungan. Tujuan utama mempelajari keterampilan ini adalah agar individu mampu mengelola dirinya sendiri secara efektif. Dalam studi ini kata “metaskills” tidak dibatasi

oleh definesi dari Hall, tapi termasuk keterampilan relevan yang telah diidentifikasi dalam literatur dan dipertimbangkan penting bagi keefektifan pengelolan karir baru. Dalam literatur yang membahas paradigma baru mengenai karir, self-knowledge, interpersonal knowledge, dan environmental knowledge diidentifikasi sebagai sekumpulan keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan career management.

Untuk mencapai kesuksesan dalam paradigma karir yang baru, telah menjadi pemikiran yang umum bahwa keterampilan tertentu perlu mendapat perhatian kritis. Atribut yang paling menonjol dalam paradigma karir yang baru ini adalah bahwa individu memiliki tanggung jawab terhadap career management-nya. Oleh karena itu, keterampilan self-management menjadi hal terpenting. Untuk merespon ketertarikan terhadap career management tersebut, lebih dari 3.000 buku self-help mengenai karir dan pengelolaan karir telah ditulis dalam dekade ini (Carson dan Carson, 1997). Kebanyakan mendorong terhadap kenaikan pemahaman terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.

Banyak sekolah bisnis telah men-set keterampilan-keterampilan tersebut menjadi suatu bagian integral di dalam kurikulum MBA (e.g. McMillen et al., 1994; Bigelow, 1995; Bigelow et al.in press). Tinjauan mengenai keterampilan tersebut mengungkapkan keterampilan yang berkaitan dengan self-knowledge, interpersonal knowledge, dan environmental knowledge (e.g. Bigelow, 1995).

Metaskills” dan career management yang efektif

Hubungan antara “metaskills” yang terdiri dari self-knowledge, interpersonal knowledge, dan environmental knowledge dan indikator dari efektif career management nampaknya cukup masuk akal.

  • Self-knowledge

Keterampilan self-knowledge berfokus pada pengembangan individu. Yang mencakup informasi mengenai individu dan pemanfaatan keterampilan yang berhubungan dengan self-management individu. Termasuk diantaranya presentasi lisan, mendengar dengan efektif, manajemen waktu dan stres, self-awareness, dan bekerja dengan lebih efektif dengan orang yang memiliki latar belakang dan budaya yang berbeda.

Kesuksesan dalam menggabungkan keterampilan-keterampilan tersebut harus memberi kontribusi bagi pembelajaran individu mengenai diri mereka sendiri, juga secara luas self-knowledge harus memberi kontribusi pada pembuatan goals yang realistis (Greenhaus et al., 1995). Individu menjadi lebih peduli bahwa untuk mengelola karir mereka, goal setting menjadi alat motivasi dan petunjuk. Individu, kemudian, menggunakan career strategies untuk mencapai goals tersebut. Pengambilan keputusan karir yang efektif akan dapat terjadi ketika individu mempelajari secara mendalam (in-depth) mengenai dirinya sendiri. Hipotesis yang kemudian mengikuti adalah:

H1a: Pelaporan self-knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan personal learning.

H1b: Pelaporan self-knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan realistic goal setting.

H1c: Pelaporan self-knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career strategies.

H1d: Pelaporan self-knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career decision making.

  • Interpersonal knowledge

Keterampilan ini merupakan keterampilan yang berkaitan dengan berhubungan dengan orang lain. Interpersonal knowledge di lungkup kerja meliputi delegasi, memotivasi orang lain, asertif, manajemen konflik, mempengaruhi orang lain, dan menggunakan kekuatan dengan efektif. Sebagai individu yang memperoleh kompetensi dalam bekerja secara efektif dengan orang lain, mereka juga belajar mengenai diri sendiri.

Mereka berempati dan mencoba untuk memahami mengapa dan bagaimana orang lain berperilaku sebagaimana apa yang mereka lakukan. Memperoleh kemampuan dalam bertransaksi dengan orang mensyaratkan pendekatan sistematis dan langsung yang menguntungkan dari indikator career management seperti realistic goal setting, memanfaatkan career strategies, dan berhasil dalam pengambilan keputusan karir. Dengan demikian penulis memiliki hipotesis:

H2a: Pelaporan interpersonal knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan personal learning.

H2b: Pelaporan interpersonal knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan realistic goal setting.

H2c: Pelaporan interpersonal knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career strategies.

H2d: Pelaporan interpersonal knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career decision making.

  • Environmental knowledge

Environmental knowledge berfokus secara keseluruhan pada pemahaman terhadap lingkungan sebagai satu fungsi. Hal ini meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan dan membantu pengembangan kemampuan adaptasi dan fleksibel di dalam konteks yang berbeda. Individu perlu memonitor lingkungannya secara konstan dalam rangka untuk memahami bagaimana mengadaptasi identitas mereka terhadap perubahan lingkungan.

Oleh karena itu, memiliki pengetahuan mengenai lingkungan harus membantu perkembangan career management yang efektif. Pencarian yang luas terhadap informasi mengenai lingkungan penting untuk men-set career goals yang realistis dan tepat (Greenhaus et al., 1995). Peningkatan kesadaran terhadap lingkungan harus dimasukkan ke dalam bagian pemahaman individu terhadap dirinya sendiri, membantu perkembangan realistic goal setting, mendorong penggunaan career strategies, dan mempromosikan career decision making. Hipotesis yang kemudian mengikuti adalah:

H3a: Pelaporan environment knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan personal learning.

H3b: Pelaporan environment knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan realistic goal setting.

H3c: Pelaporan environment knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career strategies.

H3d: Pelaporan environment knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career decision making.

Model Penelitian

Metodologi

A. Prosedur

  • Mengembangkan instrument survey menggunakan input dari 4 focus groups dan literatur karir. Focus groups terdiri dari 20 mahasiswa yang dipilih secara random yang telah menyelesaikan semester kuliah management skills. Grup ini mendiskusikan pengalaman mereka ketika dan setelah kuliah tersebut.
  • Topik yang disertakan:
    • kegunaan dari kuliah yang dilakukan
    • keahlian yang paling penting dipelajari.
    • tingkat yang bisa digunakan dalam pekerjaan
    • pengaruh keahlian yang mereka peroleh dalam pekerjaan dan karir.
    • pengaruh dari penggunaan metode yang diajarkan

B. Sampel

  • Survei dilakukan dengan mengirim surat kepada 1.146 mahasiswa MBA dan alumni AACSB yang mempunyai akreditasi northeastern university yang telah menyelesaikan dua tahap berturut-turut management skills minimal enam bulan sebelum tanggal pengiriman surat.
  • Total 446 kuesioner survei lengkap yang dikembalikan , menghasilkan 39 % tingkat respon.
  • Perempuan (214), rata-rata berusia 30 tahun (standard deviasi=5,7)
  • Para responden terdiri atas 72% dari ras Kaukasia, 28% non-Kaukasia, 2% tidak menyebutkan ras mereka.

C. Pengukuran

  • Self-knowledge dan interpersonal knowledge

Untuk mengukur Skills yang berhubungan dengan self-knowledge dan interpersonal knowledge, responden ditanya untuk mengetahui” sampai tingkatan mana pendidikan MBA meningkatkan kemampuan mereka dalam memperoleh skills yang berbeda.”

1 = tidak sama sekali, 5 = tingkatan yang tinggi sekali

Reliability coefficients untuk dua skala adalah 0,92 dan 0,95

  • Environmental knowledge

Untuk mengukur Skills yang berhubungan dengan Environmental knowledge

Responden ditanya untuk mengetahui tingkat setuju atau tidak terhadap pernyataan berikut ini.”Apakah mengambil pendidikan MBA 602/602 membuat saya mengetahui dengan jelas mengenai keterbatasan dan kekurangan saya?”

  • Skala 1 = sangat tidak setuju, 5 = sangat setuju

D. Indikator-indikator dari manajemen karir yang efektif

Personal learning

  • Skala ini didesain untuk mengukur tingkat pemahaman seseorang mengenai kesukaan mereka, kemampuan, nilai, bakat, dan aptitudes.
  • Menghasilkan reability coefficient 0,92
  • 1 = tidak sama sekali, 5 = tingkatan yang sangat tinggi sekali

Goal setting

  • Faktor yang dianalisis dengan varimax rotation menghasilkan satu faktor dan analisis kelayakan/ realibility analysis yaitu koefisien alfa 0,94
  • Contoh = Mengambil pendidikan MBA 601/602 membantu saya bekerja sesuai dengan rencana , mengetahui apap yang ingin saya capai.
  • 1 = sangat setuju, 5 = sangat tidak setuju

Career Strategies

  • Responden 1 = tidak sama sekali, 5 = selalu
  • Rata-rata responden menghasilkan nilai total strategi karir dengan reliability coefficient of 0.90
  • Nilai yang lebih tinggi menunjukkan penggunaan strategi karir yang luas.

Career Decision Making

  • Responden ditanyai untuk menunjukkan tingkat setuju atau tidak dengan aktivitas yang berhubungan dengan pembuatan keputusan karir.
  • Komponen utama faktor analisis menghasilkan satu faktor .
  • Koefisien alfa 0,90 diperoleh dari analisis reliabilitas.

E. Hasil

Pengujian Hipotesis

1. Hipotesis I

  • Rangkaian pertama hipotesis (H1a, H1b, H1c, H1d) memprediksikan bahwa variabel independen (self-knowledge) mempunyai hubungan positif terhadap masing-masing variabel dependen dalam manajemen karir yang efektif (personal learning, realistic goal setting, career strategies, dan career decision making)
  • Self-knowledge secara signifikan berhubungan dengan
    • personal learning (r = 0.67, β = 0.39, p <>
    • realistic goal setting (r = 0.70, β = 0.36, p <>
    • career strategies (r = 0.62, β = 0.29,p <>
    • career decision making (r = 0.63, β = 0.21, p <>

Keterangan : r merupakan hasil analisis korelasi, sedangkan β hasil dari analisis regresi.

Variables Means SD 1 2 3 4 5 6 7
1. Self-knowledge 3.49 0.92 (0.92)
2. interpersonal knowledge 3.09 0.96 0.74*** (0.95)
3. Environmental knowledge 3.31 1.16 0.56*** 0.51***
4. Personal Learning 3.26 0.97 0.67*** 0.64*** 0.46*** (0.92)
5. Goal setting 3.15 1.03 0.70*** 0.63*** 0.65*** 0.68*** (0.94)
6. Career strategies 3.03 0.98 0.62*** 0.62*** 0.48*** 0.68*** 0.65*** (0.90)
7. Career decision making 3.10 1.04 0.63*** 0.63*** 0.65*** 0.63*** 0.84*** 0.67*** (0.90)
Notes: * p <>p <>p <>

Reliability coefficients are enclosed in parentheses

  1. Hipotesis 2

Rangkaian kedua hipotesis (H2a, H2b, H2c, H2d) memprediksikan bahwa variabel independen (interpersonal knowlegde) mempunyai hubungan positif terhadap masing-masing variabel dependen dalam manajemen karir yang efektif (personal learning, realistic goal setting, career strategies, dan career decision making).

Interpersonal Knowledge secara signifikan berhubungan dengan

  • personal learning (r = 0.64,β = 0.31, p <>
  • realistic goal setting (r = 0.63, β = 0.19,p <>
  • career strategies (r = 0.62, β = 0.33, p <>
  • career decision making (r = 0.65, β = 0.33, p <>

Keterangan : r merupakan hasil analisis korelasi, sedangkan β hasil dari analisis regresi.

3. Hipotesis 3

Rangkaian kedua hipotesis (H3a, H3b, H3c, H3d) memprediksikan bahwa variabel independen (environmental knowlegde) mempunyai hubungan positif terhadap masing-masing variabel dependen dalam manajemen karir yang efektif (personal learning, realistic goal setting, career strategies, dan career decision making).

Environmental Knowledge secara signifikan berhubungan dengan

  • personal learning (r = 0.46, β = 0.36,p <>
  • realistic goal setting (r = 0.65, β = 0.15, p <>
  • career strategies (r = 0.48, β = 0.33, p <>
  • career decision making (r = 0.65, β = 0.33,p <>

Hasil dari Analisis Regresi Berganda

Variables Personal Learning Goal Setting Career Strategies Career Decision making
β R2 Β R2 β R2 β R2
Self-knowledge 0.39*** 0.36*** 0.29*** 0.21***
Interpersonal Knowledge 0.31*** 0.19*** 0.33*** 0.33***
Environmental knowledge 0.08 0.49*** 0.36** 0.60*** 0.15** 0.46*** 0.33*** 0.54***

Notes : *p <>

Temuan Penelitian

Hasil studi memberikan dukungan yang kuat dimana self-knowledge, interpersonal knowledge dan environmental knowledge berhubungan dengan manajemen karir yang efektif.

Kontribusi Penelitian

  • Walaupun keahlian tersebut telah diakui pada bermanfaat untuk manajemen karir efektif (misalnya pada Caproni and Arias, 1997) namun belum ada studi empiris yang membukti hal tersebut.
  • Penelitian ini membuktikan secara empiris hubungan serangkaian keahlian tersebut dengan manajemen karir yang efektif
  • Penelitian ini juga memperluas literatur karir yang telah ada (Misalnya, Fletcher,1996; Kram, 1996; Arthur and Rousseau,1996; Hall and Mirvis,1996)

Limitation of the study and suggestions for further research

Penelitian ini memiliki keterbatasan yang harus dicatat. Penggunaan dari self report scores limits penelitian ini terhadap persepsi responden dapat dipengaruhi oleh bias responden. Penelitian yang akan datang akan bermanfaat jika menggunakan metodologi yang beragam termasuk interview, penilaian oleh manajer, rekan kerja dan bawahan dan anggota keluarga dalam mempelajari hubungan studi yang diteliti. Pengeneralisiran penelitian ini terbatas karena sampel telah ditentukan dari alumni dan siswa suatu institusi. Sebagai sekolah bisnis terus menggabungkan keahlian manajerial dalam kurikulum mereka, penelitian yang akan datang akan mengambil manfaat dari penggunaan sample dari populasi yang beragam.

Langkah yang teliti diadaptasi dalam skala pengembangan dalam semua ukuran, tapi pekerjaan lebih lanjut akan dijamin untuk penyederhanaan yang lebih baik khususnya sejak variabel tersebut nampaknya berkorelasi secara positif. Penelitian yang akan datang harus mengembangkan sebuah skala tunggal manajemen karir yang menggabungkan lebih banyak atau semua elemen dari indikator.

Kesimpulan

Penelitian ini telah memberi sebuah kontribusi terhadap literatur karir dengan mengintegrasikan ide dan konsep yang memfasilitasi kesuksesan dalam mengelola career protean memeriksa hubungan secara empiris. Penulis telah menunjukkan bahwa akuisisi dan penggunaan dari skills yang memelihara self-management, interpersonal management dan environmental learning mungkin meningkakant career management. Temuan dari penulis menerangkan kontribusi dari institusi akademik dalam menyiapkan angkatan kerja masa depan. Penulis mendiskusikan implikasi untuk individu dan organisasi dan kami berharap penelitian ini dapat menstimulasi studi empiris yang akan datang pada area ini.

Critical Review

Secara keseluruhan, jurnal ini sudah cukup lengkap dan memenuhi standar penulisan. Namun, ada beberapa hal yang menjadi critical review antara lain penulis tidak menuliskan secara eksplisit model penelitian yang digunakan meskipun model penelitian telah tercermin dari hipotesis yang ada (secara implisit). Meskipun tidak ada keharusan untuk mencantumkan model penelitian secara eksplisit, namun akan lebih baik bila model penelitian dicantumkan juga sehingga memudahkan pembaca dalam memahami isi jurnal/penelitian.

Selain itu, dalam melakukan proses survey penulis menggunakan metode dengan mengirimkan kuesioner kepada responden. Hal ini dapat memberikan hasil yang bias diantaranya karena adanya kemungkinan diganggu orang lain, kemungkinan responden memberikan jawaban yang tidak sesuai, dan kurangnya kontrol.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment